Top Menu

Altitude 3676 : Tentang Memaafkan dan Berdamai dengan Diri Sendiri






Penulis : Azzura Dayana
Penyunting Bahasa : Mastris Radyamas
Penata Letak : Puji Lestari
Desain Sampul : Adhi Rasydan
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Cetakan pertama : Ramadhan 1434 H/Juli 2013
Tebal : 416 halaman


“Dendamku sebenarnya masih sangat berkobar di sini. Pertanyaannya setelah aku tahu kebusukan dari tragedi yang membunuh ibuku ini, apakah aku tidak boleh membunuh ayahku atau ibu tiriku.” (halaman, 272).


Ada banyak sekali penyebab kita sulit sekali memaafkan kesalahan orang lain yang dilakukan kepada kita, apalagi itu sampai menghilangkan nyawa seseorang yang kita sayangi. Apa yang harus kita lakukan?

Seolah sedang musim gugur di Borobudur. Benar-benar langsung mengingatkanku pada bait terakhir salah satu puisi pendekmu itu. Kamu lihatlah, daun-daun pepohonan berserak di sekeliling candi. (halaman, 7). 

Novel ini diawali dari sebuah pertemuan antara Farras dan Mareta di kawasan komplek Candi Borobudur. Mareta sibuk dengan obrolan di telpon genggamnya sembari menyebutkan nama “monster” cukup menyita perhatian Farras. 

Membuat Farras terus berusaha mencari tahu siapa orang disebrang saluran telpon Mareta, apakah orang itu adalah seseorang yang sedang ia cari selama ini. Singkatnya, mereka menjadi akrab serta bersama-sama melakukan perjalanan ke Sulawesi Selatan, Mareta tertarik dengan harga tiket pesawat yang murah dari agen travel tempat teman Farras berkerja walau harus melakukan penerbangan di Surabaya. Tentunya, sebuah perjalanan yang menyimpan ‘misi’ masing-masing.

Di Sulawesi Selatan mereka tidak satu tujuan, Mareta memutuskan untuk ke Selayar sementara Farras ke Tanjung Bira.



Ranu Pane

Lima tahun lalu dia datang pertama kali ke Ranu Pane , bersama rombongannya yang berjumlah dua puluh orang. Di pertengahan Agustus tahun itulah  yang menjadi pertemuan pertama antara aku dan Ikhsan. (halaman, 36)


Fikri dan Ikhsan sempat cekcok karena tidak mendapatkan wisma kosong lagi di desa Ranu Pane. mereka berdua adalah  pentolan komunitas pencinta alam dari ibukota, pada saat itu sedang membawa rombongan pendaki junior. Di sanalah Farras melintas dan menawarkan bantuan serta menjadi awal pertemuan Farras dan Ikhsan.




Novel lintas tokoh, ada tiga tokoh di sini; Farras, Mareta, dan Ikhsan. Memiliki watak dan latar belakang yang berbeda. Farras gadis desa yang lembut tutur perangainya. Mareta gadis backpaker sejati, berpenampilan tak karuan. Ikhsan pemuda dari keluarga broken home, sering mendapatkan ketidakadilan, membuat dia terlahir menjadi pemuda penuh dendam, sulit memaafkan serta pemuda yang sulit berteman dengan orang baru. 


Dari ketiga tokoh itu semuanya menggunakan sudut pandang orang pertama membuat kita tidak akan bosan membacanya apalagi disajikan dengan gaya bahasa yang ringan dan santai. Tidak hanya itu saja, penulis berhasil menyajikan cerita yang mengalir, membawa pembacanya terhanyut dalam isi cerita.


Lewat novel ini juga secara tak sengaja kita akan diajak jalan-jalan ke tempat wisata terbaik di negeri ini, tentang Candi Borobudur, Tanjung Bira, dan tentunya desa Ranu Pane serta Gunung Semeru. Saya yang masih memiliki impian untuk mendaki gunung Semeru cukup terwakilkan lewat novel ini, bagaimana suasana Ranu Kumbolo, Tanjakan Cinta, shelter terakhir  di Kalimati, dan apa yang harus kita lakukan agar bisa mencapai puncak Semeru yang memiliki tingkat kemiringan 45 derajat, dengan medan berpasir dan bebatuan.  

Tak hanya menyajikan cerita yang berlatar belakang Ranu Pane, tetapi banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari novel altitude 3676 ini, belajar dari Ikhsan bagaimana sulitnya memaafkan dan berdamai dengan dirinya sendiri. Ketika ia dan ibunya sering diteror oleh ibu tirinya, tidak dipedulikan oleh oleh sang ayah, menjadi pupuk yang menumbuhkan dendam pada diri Ikhsan, apalagi sampai harus kehilangan nyawa ibunya. 

Dari Farras kita bisa belajar bagaimana caranya melembutkan kepribadian orang yang sudah terlanjur keras kepribadiannya, sebab tercipta kerena keadaan, hal itu karena lembutnya pula pribadi Farras, begitu sabar menghadapi watak Ikhsan, pemuda yang hanya dikenalnya beberapa kali di Ranu Pane. 


Aku ingin saja ikut marah, tapi aku ingat perkataan Khalil Gibran: Sebuah perselisihan akan menjadi jalan yang paling singkat di antara dua pikiran. Kalau aku terpancing marah, otomatis kami akan saling mengecam, kemudian saling menjauhi dan membenci. Kalau sudah begitu, hubungan kami adalah: teman belum sampai, musuh jelas sudah. Lalu, untuk apa perkenalan, untuk apa sapaan, untuk apa pertemuan? (halaman, 64-65) 


Masih banyak lagi kisah-kisah seru dalam novel ini, tentang siapa Mareta dan ada hubungan apa dengan lelaki yang sering ia panggil monster, sehingga menarik semua perhatian Farras. Tentang siapa sebenarnya pengirim foto ke email Farras. Kamu penasaran? Langsung saja baca novelnya yah; Altitude 3637 Takhta Mahameru karya Mbak Azzura Dayana. Sekian.


11 komentar :

  1. Tahta Mahameru memang keren. Gara-gara novel ini saya jadi ke Mahameru ha haf

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren bang. Saya belum kesampaian juga hehe

      Hapus
  2. Kayaknya ini sekuelnya Tahta Mahameru ya, udh baca ttg tanjung bira tp baru setengah sih. Dan emang kuat bgt karakternya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setau saya ini novel Tahta Mahameru yang diterbitkan oleh Republika, lalu diterbitkan lagi oleh Indiva dan berganti judul Altitude 3676. Mohon koreksinya mbak...

      Hapus
  3. Wah kren tulisannya mbk Azzura Dayana, jadi kepengen baca novelnya secara langsung kykny

    BalasHapus
  4. Saya sdh punya novelnya tp belum sempat baca..

    BalasHapus
  5. Saya udah menerapkan hal.ini pada diri sendiri dan hasilnya jauh lebih legowo

    BalasHapus
  6. Hikmah resensi ini adalah selalu memperbaiki diri dari segala kesalahan yang diperbuat.

    BalasHapus
  7. Aku kok malah penasaran sama novelnya yak 😀😀

    BalasHapus

Terima kasih sudah baca postingan ransellusuh.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates