Top Menu

Kenapa Generasi Milenial Harus Melek Politik




Belakangan ini generasi milenial memang sedang akrab terdengar di telingga kita, lalu apa dan siapa generasi milenial itu. Generasi milenial atau juga sering disebut dengan generasi Y adalah  mereka yang lahir setelah generasi X kisaran tahun 1980-2000an atau berusia 15 – 35 tahun.
 
Generasi Milenial memiliki keunggulan tersendiri dari generasi sebelumnya, terutama  dalam bidang teknologi.  kita ketahui generasi milenial sangat akrab dengan teknologi  terutama media sosial, hal ini disebabkan oleh (Digital Native) lahir saat teknologi mulai tumbuh. Namun dibalik keunggualan Gen-Y dari Gen-X, generasi milenial cendrung individualis, mereka sering sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitar mereka seperti perkembangan ekonomi maupun dunia politik.

Mengenai politik, sebentar lagi negara kita akan melaksanakan pemilu serentak, baik itu pemilihan legislatif (pileg) maupun pemilih Presiden (Pilpres), dengan situasi ini dimanakah posisi generasi milenial berada?  Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) polulasi generasi milenial saat ini sudah mencapai 70 – 80 juta jiwa dari 193 juta jiwa pemilih di Indonesia  dengan persentase  35-40 persen.

Melihat angka yang cukup besar dari pemilih generasi milenial ini, tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi partai politik untuk merangkul para pemilih pemula dan pastinya keberadaan generasi milenial ini turut menentukan nasib masa depan bangsa. Serta menjadi penentu kemenangan kelompok politik tertentu. 

Untuk  menarik suara dari generasi milenial berbagai upaya dilakukan oleh partai politik, mulai dari pendekatan lewat media sosial serta menjadikan generasi milenial sebagai calon anggota legislatif (caleg) atau memasukan generasi milenial kedalam bagian dari tim pemenangan  calon presiden dan wakil presiden pada pemilihan umum 2019 ini. 

Hal itu dilakukan karena susah-susah gampang untuk menarik perhatian generasi milenial ini, meskipun generasi milenial ini  melek teknologi, tapi kurang peduli terhadap politik, meskipun itu dibantah bahwa generasi milenial itu justru mengikuti isu-isu politik dari berbagai sumber terutama lewat media sosial. Namun mereka juga belum memiliki pilhan tetap serta mudah sekali dipengaruhi. 

Kenapa seharusnya generasi milenial melek terhadap politik. Menurut penyair asal Jerman Bertolt Brecht, “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara,  dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga-harga komoditas, obat, tepung dan makanan semua tergantung keputusan politik.  Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacuran, anak terlantar, politisi busuk serta rusaknya perusahaan nasional dan multinasional. 

Jika merujuk pada perkataan penyair tersebut, bukan saatnya lagi para generasi milenial menutup diri mengenai politik karena mereka adalah estafet kepemimpinan bangsa ini  dimasa depan, jika mereka buta terhadap peta perpolitikan di negaranya,  kita tidak tahu dengan nasib bangsa ini ke depan nanti. Berpartisipasi dalam politik, baik itu dalam pemilihan kepala daerah, pemilihan anggota legislatif serta pemilihan presiden dan wakil presiden itu artinya kita ambil bagian dalam menentukan nasib bangsa ini menjadi lebih baik lagi. 


foto: Kaskus
*tulisan ini pernah dimuat di Prabumulih Pos (1/3/2019)

Posting Komentar

Terima kasih sudah baca postingan ransellusuh.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates