Top Menu

Melangkah dengan Mudah bersama OJOL




Kemajuan teknologi sangat mempermudah setiap pekerjaan  kita, teknologi bisa bersanding   pada semua aspek mulai dari pendidikan, pertanian, industri, jasa dan juga transportasi. Nah, ngomong-ngomong masalah transportasi, serakang lagi marak-maraknya transportasi online tuh kan, tidak hanya di kota-kota besar saja sekarang transportasi online sudah merabak ke kabupaten/kota kecil di seluruh Indonesia termasuk juga di Prabumulih. 

Ngomongin transportasi online, kawan-kawan pasti punya pengalamannya sendiri kan? Termasuk saya hehe... kali ini saya akan menceritakan sedikit pengalamanan naik transportasi online. Oke, namun sebelum saya menceritakan pengalaman-pengalaman naik tranportasi online saya akan berbagi sedikit pengalaman saya pertama kali ke Jakarta. 

2014 lalu, saya berkesempatan untuk mengikuti sebuah workshop cerpen kompas yang diselengarakan oleh harian kompas minggu di Jakarta. Berangkatlah saya sendirian ke Jakarta, modal nekat sih, sebab seumur-umur belum pernah sama sekali ke kota besar kecuali ke Palembang itu pun ga sering dan ga sendirian. Sebelum berangkat, saya googling terlebih dahulu rute transportasi umum dari terminal kalideres ke palmerah selatan alamat gedung kompas gramedia tempat workshop cerpen berlangsung. 

Dari menurut hasil googling tersebut saya harus naik kopaja B88 turun  di Slipi, nah di slipi saya sempat benggong di pinggir jalan, bingung mau kemana lagi, hehe... maklum orang kampung ke ibukota cuy, setelah sempet mikir sejenak, saya baru ingat kalo menurut hasil googling itu dari slipi ke Palmerah Selatan harus naik angkot berwarna biru telor asin, kebetulan tak lama dari itu nonggol angkot berwarna telor asin tersebut, tanpa pikir panjang lagi saya kemudian naik, di sepanjang perjalanan menyusuri jalan palmerah tersebut, mata saya tak henti-hentinya memandang keluar, mencari gedung bertuliskan kompas gramedia, dan berhasil menemukannya.

Setelah rangkaian demi rangkaian kegiatan workshop selesai, saya keluar dari hotel rencananya saya mau langsung pulang ke Prabumulih naik PO bus yang sama tapi menurut info saya harus naik dari terminal rawamangun. Bergegaslah saya meninggalkan hotel, naik angkot telur asin, terus tanya-tanya sama tukang koran, kalau mau ke terminal rawamangun, menurut si bapak tukang koran saya harus naik bus (lupa nama busnya yang pasti ada tulisan 123) lalu turun di Benhil dari Benhil saya naik metromini, saya duduk saja di dalam bus, mengikuti arah bus itu mau kemana tujuan akhirnya, kayaknya sudah semakin tidak jelas dimana rawamangun, dan turun di Blok M, di blok M binggung lagi mau kemana, lautan bus metromini ada di sana, kemudian saya berpikir untuk kembali lagi ke slipi dan lanjut ke terminal kalideres kali saja di sana ada bus ke Prabumulih.

Saya tanya bus jurusan slipi sama dishub di Blok M, ditunjukin bus warna hijau putih bertuliskan slipi, saya naik. Cukup lama muter-muter di jakarta pusat sampailah saya di slipi dan lanjut ke kalideres naik kopaja, sesampainya di kalideres, ternyata semua bus jurusan sumatera ada di sini. Asem deh. 

Nah, begitulah sedikit cerita ke rumitnya pengalaman pertama saya ke Jakarta naik transportasi umum yah. Lah kok nyeritain pengalaman itu, kan temanya nyeritain pengalaman naik transportasi online. Oke deh, 2014 rasanya transportasi online belum banyak dikenal orang yah atau memang belum ada, atau saya yang belum tau hehe, yang pasti 2014 handphone saya masih ala kadarnya, sinyalnya saja masih 2G, gimana mau download aplikasi ojek online, kapasitas ramnya saja terbatas untung-untungan saja bisa browsing opra mini. 

2017 saya baru mengenal transportasi online, soalnya sudah ganti handphone dengan smartphone yang lebih canggih dan cukup untuk download aplikasi  ojek online. Nah, sewaktu MUNAS 4 FLP di Bandug saya mulai menggunakan transfortasi online, susai dengan judul sih, Melangkah dengan Mudah Bersama OJOL hehe, padahal lebih tepatnya sih, Kabur dengan mudah bersama ojol. 

Yah saya gunakan transfortasi online untuk kabur dari rangkaian agenda munas kemarin, hehe tapi ga lama kok, saya kabur kisaran pukul 11.00 – 13.30 intinya hampir mendekati waktu break makan dan sholat sih, lagian agenda siangnya juga cuma pemaparan hasil rapat per komisi, menurut saya kalau pun saya ga ada, ga masalah, lagian memang ada janji sama kawan di bandung lewat pintu samping wisma saya keluar dan memesan ojol untuk ke UIN di Cibiru. 

Pengalaman berikutnya ketika sehari selesai munas, saya dan kawan-kawan FLP Prabumulih menginap di rumah Kak Koko, keesokan harinya saya pamit terlebih dahulu karena harus melanjutkan perjalanan ke Jogja menggunakan kereta api sementara kawan-kawan FLP Prabumulih pulang tanggal 7 jadi masih ada waktu satu hari di Bandung.

Untuk sampai ke stasiun saya kembali memesan transportasi online, pada waktu itu jadwal keberangkatan kereta api pukul 08.00, sementara waktu sudah menujukan pukul 7.30. 
“Wihhh bentar lagi tuh,” kata dravernya.

kita lewat pintas-pintasan sampai akhirnya tiba di stasiun Kiara Condong, katanya sih kalau mau naik di stasiun bandung sudah ga terkejar, setelah bayar saya langsung masuk ke stasiun, dan pas banget sih begitu selesai cetak tiket di boaring pass masuk ke peron kereta apinya tiba saya langsung cari kursi. 

Pukul lima sore saya tiba di stasiun tugu Jogja, saya turun dan melanjutkan perjalanan ke bandara Adi Sucipto untuk bertemu dan bergabung dengan kawan-kawan yang baru saja sampai penerbangan dari Palembang. Ketika turun saya baru ingat, kenapa tidak turun di stasiun maguwo yang letaknya tepat di depan bandara Adi Sucipto, maklum ini juga untuk pertama kali saya ke Jogja tanpa pikir panjang lagi saya memesan ojek online menuju bandara. Perjalanan yang lumayan jauh, membuat saya bisa menikmati suansa sore di Jogja, terkadang semua itu ada hikmahnya, hehehe... 

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke laboratorium hidup yang berada di kecamatan Tawamangun Kabupaten Karanganyar bermalam di sana sampai setengah hari, kemudian kembali lagi ke Jogja pukul lima sore, di hotel pukul tujuh malam akan ada acara gala diner gitu. Maka setelah saya memasukkan barang-barang di kamar, saya kembali kabur bersama ojol untuk bertemu kawan di dekat UNY. 

Dengan adanya transportasi online tentu memudahkan langkah kita, sekarang ketika saya ingin pergi ke suatu kota dan di kota tersebut sudah ada transportasi onlinennya saya tidak perlu merasa takut akan tersesat atau tak lagi disibukan dengan gonta-ganti naik angkot ini itu. 

Tapi saya juga punya pengalaman lucu saat naik transportasi online, ketika itu di Palembang, dari Ampera saya ingin ke hotel majestic untuk mengikuti workshop skenario film, saya pesan ojek online, tak lama dapet drivernya, terus dichat, tanyain posisi saya, saya jelaskan kalau saya di bawah jembatan ampera ilir. Tak lama drivernya minta batalin, karena kejauhan, pesen lagi, minta di batalin lagi. 

Kemudian saya mencari ke tempat yang mudah ditemukan, berdirilah di depan kantor pos jalan merdeka. Dapet sih drivernya, tapi lama nunggu, saat drivernya tiba, “kamu salah setting lokasi dek,” kata drivernya, pantesan banyak yang minta batalin, saya berada di ilir, tapi settingan lokasi jemput saya di ulu.  hehehe...


foto: suara.com

2 komentar :

  1. hahah.. langsung dibatalin ya, kalau saya pengalaman di sini, jarang banget yg batalin, biasanya mereka cari sampe dapat lah wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin Karakter masyarakat nya beda mbak, di sini kyk gitu kalo kejauhan minta dibatalin aja, tapi ga semua gitu sih

      Hapus

Terima kasih sudah baca postingan ransellusuh.com, silakan tinggalkan komentar

Designed by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates